5 Fakta Penting Penyakit Jantung Koroner yang Nggak Boleh Kamu Abaikan

Shella Rafiqah Ully -
Data Sample Registration System (SRS) 2014 yang dipaparkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan penyakit jantung berada di tingkat kedua sebagai penyakit penyebab kematian terbanyak setelah stroke. 

Penyakit tidak menular namun mematikan ini merugikan negara secara ekonomi karena menghabiskan dana BPJS Kesehatan sejumlah 4.4 triliun rupiah pada 2014, lalu naik hingga 7.4 triliun rupiah pada 2016 dan menyentuh angka 9.3 triliun rupiah pada 2018. Kenapa bisa meningkat berkali lipat begini ya?

Penyakit jantung koroner muncul tanpa tanda dan gejala, sebab itu ia dijuluki sebagai si ‘silent killer’ yang berbahaya. Sayang, meski mematikan penyakit ini masih sering diabaikan.
Lemonilo mewawancarai dr. Lusiani, SpPD-KKV, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular untuk mendapatkan jawabannya. Menurut dokter Lusi ini terjadi seiring dengan masifnya sedentary lifestyle (tren gaya hidup kurang gerak) dan pola makan yang tidak sehat pada masyarakat. Dari dr. Lusi, Lemonilo merangkum 5 fakta penting lain tentang penyakit jantung koroner yang meski mematikan namun masih kerap diabaikan.

5 Fakta Penting Penyakit Jantung Koroner yang Nggak Boleh Kamu Abaikan

1. Penyakit Jantung Koroner Muncul karena Plak yang Menghambat Arteri

Penyakit jantung koroner muncul karena adanya penumpukan lemak berupa plak di pembuluh darah sehingga aliran darah pada tubuh jadi terhambat. Tumpukan plak yang dalam istilah medis disebut aterosklerosis ini muncul seiring bertambahnya usia karena pola makan yang tidak terjaga dan gaya hidup yang tidak sehat pula. “Pas kita lahir, plak ini nggak ada sama sekali,” terang dokter Lusi.

2. Menyerang Siapa pun, Bahkan di Usia Muda

2. Menyerang Siapa pun, Bahkan di Usia Muda

Mungkin kita terbiasa mendengar kabar bahwa pengidap jantung koroner adalah mereka yang ada di rentang usia 50-60 tahun. Namun, tren sedentary lifestyle yang membuat orang-orang jadi minim gerak menggeser rentang usia pengidap jantung koroner. “Sekarang, umur 30-40 tahun juga udah mulai ada keluhan-keluhan penyakit jantung koroner.”

Meski masih muda, penting untuk selalu meningkatkan awareness dengan melakukan pemeriksaan medis berkala memastikan bahwa belum ada tanda-tanda tubuh mengidap penyakit jantung koroner. Karena sebagai si silent killer, penyakit ini muncul tanpa gejala. Seringnya pasien didiagnosis menderita penyakit jantung juga bukan dari gejala tapi dari medical check up.

3. Dipicu oleh Gaya Hidup Tidak Sehat

Suka makan junkfood dan gorengan, jarang olahraga, merokok pula? Semua kebiasaan tidak sehat ini adalah faktor risiko yang membuatmu bisa terkena penyakit jantung koroner bahkan di usia muda! Sudah saatnya membenahi gaya hidup kembali sehat, kamu bisa memulainya dengan olahraga apa saja secara teratur sesuai kemampuan, makan buah dan penuhi asupan vitamin. 

3. Dipicu oleh Gaya Hidup Tidak Sehat

4. Sekali Terjangkit, Seumur Hidup Harus Minum Obat

Jika sudah definitif terkena penyakit jantung koroner, ada beberapa jenis obat yang harus terus dikonsumsi untuk mencegah timbulnya gejala baru. Konsumsi obat ini dilakukan seumur hidup. Pasien dengan vonis penyakit jantung koroner biasanya sudah pada fase merah atau fase clinical endpoints sehingga yang bisa dilakukan hanyalah mengontrolnya agar kondisi tubuh tidak semakin memburuk.
Selain mengonsumsi obat, cara lain mengontrol penyakit jantung koroner adalah dengan tetap menjaga pola hidup sehat mulai dari menjaga makanan yang dikonsumsi dan olahraga teratur. “Boleh jogging aja 3 kali seminggu selama 30 menit tiap harinya, jadi nggak perlu olahraga yang berat-berat.”

5. Kenali Faktor Risiko dan Lakukan Pemeriksaan Kesehatan

Ada beberapa faktor risiko penyakit jantung koroner. Pertama, dipengaruhi oleh orang tua yang menderita penyakit jantung dini. Biasanya ayah yang mengidap penyakit jantung di usia kurang dari 55 tahun atau ibu di usia kurang dari 65, akan meningkatkan faktor risiko anak untuk juga terserang penyakit jantung koroner.

Kedua, memiliki kadar kolesterol tinggi dengan kadar lemak jahat atau LDL lebih dari 160 mg/dL. Ketiga, pasien dengan sindrom metabolik seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, dan kandungan gula mulai naik. Keempat, faktor risiko dari penyakit lain yang diderita misal pada pasien dengan lupus, reumatik, dan penyakit autoimun lainnya.

5. Kenali Faktor Risiko dan Lakukan Pemeriksaan Kesehatan

Penting untuk mengenali faktor risiko penyebab jantung koroner agar dapat dilakukan pengendalian dan deteksi dini penyakitnya. Jadi, untuk semua orang dengan faktor risiko tersebut disarankan agar selalu medical check up untuk mendeteksi penyakit jantung koroner ini.

Menurut dokter Lusi, selama ini usaha-usaha kuratif selalu dimaksimalkan untuk menangani pasien penyakit jantung koroner. Namun, yang belum optimal adalah langkah preventif untuk menurunkan jumlah pengidap penyakit ini. Masih enggannya orang-orang menerapkan pola hidup sehat adalah salah satu penyebab angka pengidap penyakit jantung koroner semakin tinggi dan masalah ini harus sama-sama dipecahkan.

Lemonilo sebagai healthy lifestyle ecosystem terus berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang akurat dan bersumber dari ahli di bidangnya untuk membantu masyarakat hidup lebih sehat dan bahagia. 

Lemonilo juga menghadirkan beragam produk alami dan bebas 100+ bahan-bahan berbahaya untuk membantu masyarakat Indonesia mendapatkan opsi makanan sehat yang tetap enak, aman, dan harganya terjangkau sehingga dapat berkontribusi membantu menurunkan jumlah pasien jantung koroner!
Bagikan Artikel

Produk Dalam Artikel Ini

Dikirim oleh Lemonilo
Lemonilo Minyak Goreng Kelapa Premium
1 L
(82)
Cashback 3%
42.500
Rp 38.250
Hemat Rp 4.250
100 ml
(94)
Cashback 3%
26.000
Rp 23.400
Hemat Rp 2.600